Adab Pemimpin Terhadap Ulama

IMAM MALIK MENEGUR
HARUN AR-RASYID KARENA ADAB
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Al-‘Allamah ‘Abdurrahman as-Syirazi menulis kitab, yang secara khusus dipersembahkan kepada Shalahuddin al-Ayyubi, saat beliau menjabat sebagai penguasa di Mesir. Kitab itu berjudul, al-Manhaj al-Masluk fi Siyasati al-Muluk [Metode yang harus ditempuh dalam mengurus kekuasaan].

Dalam nasihatnya, beliau tuliskan, “Siapa saja yang baik dalam mengurus [urusan rakyatnya], maka kepemimpinannya pasti langgeng.” Menariknya, beliau mengaitkan kebaikan dalam mengurus urusan rakyat tersebut dengan tatakrama dan kesopanan (adab). “Adab adalah cerminan akal. Siapa yang tidak beradab, maka dia tidak berakal. Siapa yang tidak berakal, maka dia tidak berhak mengurus urusan. Siapa yang tidak berhak mengurus urusan, maka dia tidak akan mempunyai kekuasaan.” [as-Syirazi, al-Manhaj al-Masluk fi Siyasati al-Muluk, hal. 172].

Bahkan, orang bijak mengatakan, “Adab adalah penjaga para penguasa. Karena adab itu akan mencegah mereka melakukan kezaliman.” Seorang pria dari Bani Qais berkata kepada kaum Quraisy, “Wahai saudara Quraisy, carilah adab. Karena, ia akan menambah kuatnya akal, sempurnanya kedudukan, dan bukti harga diri seseorang.” Karena itu, adab ini begitu diperhatikan oleh para Khalifah. Karena mereka tahu, dengan adab yang baik inilah mereka bisa memerintah dan mengurus urusan rakyatnya dengan baik. Dengannya, kekuasaan mereka pun akan bertahan lama.

Mereka pun datang dan belajar adab ini kepada para ulama’. Sebut saja, Harun ar-Rasyid, Khalifah ‘Abbasiyyah yang sangat terkenal dengan sikapnya yang tegas kepada Nakfur, Raja Romawi, begitu hormat kepada Imam Malik. Harun ar-Rasyid, sebagaimana dituturkan oleh Imam as-Suyuthi, dalam Tarikh Khulafa’-nya terbiasa melaksanakan haji dan jihad secara bergantian setiap tahun. Ketika menunaikan haji, beliau pun menziarahi makam Rasulullah saw.

Di Madinah ketika itu, ada seorang ulama’ yang dikenal sebagai Imam Dar al-Hijrah. Beliau adalah Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, dan pengarang kitab al-Muwatha’. Ketika berada di Madinah, Khalifah yang agung ini pun mengikuti majelis Imam Malik. Beliau tidak sendiri, tetapi mengajak serta putra-putranya untuk menghadiri majelis Imam Malik ini. Wajah beliau dan putra-putranya sebagai Khalifah tentu tidak asing lagi bagi Imam Malik. Kehadirannya tentu menarik perhatian yang lain, termasuk Imam Malik sendiri.

Namun, yang menarik bukan pribadinya, tetapi caranya duduk mengikuti majelis ilmu, yang dianggap oleh Imam Malik tidak sopan [kurang beradab]. Ketika itu, Khalifah agung itu duduk menyimak penjelasan Imam Malik sambil bersandar, sembari menyelonjorkan kakinya ke depan. Maka, Imam Malik pun tak segan-segan menegurnya, karena cara duduk seperti itu di majelis ilmu dianggap tidak sopan, baik terhadap guru, jamaah yang lain, maupun ilmu yang sedang dipelajarinya.

Khalifah yang agung itu pun patuh. Seketika itu juga, beliau langsung membentulkan posisi duduknya, dengan bersila dan tidak lagi bersandar ke dinding atau tiang yang ada di bekalangnya. Padahal, Khalifah yang agung ini begitu tegas dan garang sikapnya kepada Raja Romawi, Nakfur. Tetapi, sikapnya itu berbeda sama sekali ketika berhadapan dengan seorang ulama’. Begitulah Khalifah Harun ar-Rasyid yang agung itu belajar adab kepada Imam Malik. Dan, begitulah Imam Malik mengajarkan adab kepada Khalifah, putra-putranya dan mereka yang hadir di majelis beliau.

Maka, tepat sekali apa yang diungkapkan oleh as-Syirazi di atas. Para Khalifah itu pun tak hanya menjalankan hukum syara’ dengan paripurna, tetapi mereka pun menghiasinya dengan adab yang luar biasa. Alangkah indahnya kekuasaan yang ada di tangan mereka.

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone