Analisis seputar Ahok #1 Risma sebagai pengganti Ahok?

Alumnikampus.com –  Ahok sedang masuk pusaran politik yang tidak bisa dia kendalikan. Terlepas dari sikap Ahok yang arogan dan ceplas-ceplos maka situasi politik sekarang ini telah menempatkan Ahok sebagai musuh bersama umat Islam adalah situasi yang Ahok sendiri tidak inginkan.

Dimulai dengan seruan HTI dalam masirohnya (5/9) yang dihadiri oleh sekitar 20.000 orang yang menyerukan Haram Pemimpin Kafir, Tolak Pemimpin Kafir, Tolak Ahok. Opini ini terus menggelembung tak tertahankan, dan mendapatkan respon serta dukungan dari banyak kalangan kaum muslimin mulai dari kalangan Pondok Pesantren dan Kyai Tradisional, mahasiswa sampai kalangan Intelektual. Sehingga dapat dikatakan tidak ada seorang tokoh politikpun yang bisa mundur dari opini Haram Pemimpin Kafir, Tolak Pemimpin Kafir baik tokoh tersebut mendukung atau menentangnya.

Yang menentang mengatakan bahwa opini ini sudah menjadi isu SARA, bahkan Megawati dalam amanahnya kepada Ahok ketika di pilih menjadi Cagub dari PDIP dan koalisinya berpesan agar Ahok menetralisir isu SARA ini di Ibu kota. Kalangan liberalpun berkomentar terhadap opini ini dengan sudut pandang mereka bahwa opini di DKI sekarang sudah bernuansa SARA dan dalam tingkat yang mengkhawatirkan.

Yang mendukungpun memanfaatkan opini Haram Pemimpin kafir untuk mengarahkan masyarakat DKI agar memilih Paslon muslim selain Ahok yakni Anies-Sandiaga dan Agus-Silvana.

Nampak sekali elektabilitas Ahok yang sudah menurun sebelum opini, semakin menurun tajam. Sementara pasangan calon sudah diumumkan dan bersiap memasuki masa kampanye, menjelang pilkada 2017.

PDIP dan Koalisi yang mengusung Ahok sebenarnya sudah memperhitungkan penurunan elektabilitas Ahok ini, namun PDIP masih punya anggapan jika didukung dengan kekuatan masif dari Parpol dan kalangan pengusaha kakap dibelakang Ahok mereka akan berhasil memenangkan Pilkada DKI. Mengingat pengusaha di belakang Ahok adalah mereka yang juga berhasil mengusung Jokowi jadi Presiden, setidaknya demikian menurut Ahok. Ahok sempat melontarkan pernyataan bahwa para pengembang besar inilah yang membuat Jokowi jadi Presiden.

Namun Ahok adalah orang yang liar bukan tipe orang yang bisa diatur mengikuti tabuhan gendang orang lain, sikap over confidence ini untuk sebagian orang adalah sesuatu yang menarik untuk didukung mengingat beberapa gebrakan sebagai gubernur DKI yang tidak mainstream ternyata berjalan. Namun terlalu PD nya juga mengundang kecaman yang tidak kalah pedasnya, terlalu banyak pihak yang merasa dirugikan dengan sikap dan kebijakan Ahok sementara rasa empatinya hampir-hampir tidak ada terhadap korban penggusuran misalnya.

Ahok sebenarnya sudah berkali kali diingatkan oleh banyak pihak dan tokoh-tokoh tentang sikap dan cara bicaranya, namun sikap kampungan ini kelihatannya sudah menjadi karakter yang sangat sulit untuk diubah.

Oleh karena itu kalangan Parpol pendukung Ahok pun tetap memiliki kekhawatiran Ahok bisa kalah dalam Pilkada DKI 2017, PDIP sebagai partai pemenang pemilu memiliki resiko terbesar dalam pertarungan politik Pilgub DKI ini. Setelah sebelumnya berhasil menaikkan Jokowi sebagai Gubernur DKI, bahkan sampai jadi Presiden, maka kekalahan dalam Pilkada DKI 2017 bukan merupakan pilihan. Sementara partai lain pendukung Ahok hanyalah pengembira dan oportunis yang berharap mendapatkan keuntungan besar jika Ahok menang Pilkada DKI 2017.

Oleh karena itu PDIP menyiapkan beberapa skenario menghadapi Pilkada 2017.

1. Selama kurun waktu yang panjang, terjadi perdebatan internal partai walau terdengar sampai di masyarakat bahwa PDIP hanya akan mendukung Cagub dari kalangan kader sendiri.

Sementara Ahok ketika itu dengan penuh percaya diri mengambil jalur independen, bahkan cenderung meremehkan peranan parpol.
Sikap ini, menimbulkan kemarahan di kalangan parpol termasuk PDIP yang seringkali jajaran tokoh mereka menyatakan dalam berbagai kesempatan bahwa PDIP tidak mungkin mendukung calon independen yang tidak mau menggunakan kendaraan partai untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur.

Bahkan beberapa kader PDIP terlihat dalam sebuah rekaman video menyanyikan bait lagu “Ahok Pasti Bisa Dikalahkan”. Sikap keras kepala Ahok yang hanya akan menggunakan jalur independen, tidak mau menggunakan jalur partai didukung oleh para pengusaha besar yang membiayai gerakan teman Ahok, mengumpulkan Sejuta KTP DKI.

Atas dasar frame Cagub harus kader Partai inilah kemudian muncul wacana mengusung Risma sebagai Cagub PDIP dan melarang Ahok menggandeng Jarot yang juga kader PDIP sebagai pasangan Ahok ketika mau mendaftarkan diri sebagai Balon Gubernur di KPU.

PDIP tidak juga mengumumkan calon gubernur pilihannya, membuat koalisi partai Nasdem, Hanura dan Golkar mengumumkan dukungan dan mencalonkan Ahok sebagai calon Gubernur mereka. PDIP sebagai playmaker mengintimidasi partai partai lain untuk bersedia menunggu dan menanti pengumuman dari PDIP sampai hari-hari terakhir batas pendaftaran Paslon di KPU. Sementara posisi Risma terus dijadikan misteri untuk mencapai tujuan ini.

Jadi skenario #1 adalah PDIP mengusung calon dari kadernya sendiri untuk berhadapan dengan Ahok calon dari koalisi Golkar, Hanura dan Nasdem. Dalam hal ini kandidat terkuatnya adalah Risma, yang dalam berbagai survey memiliki peluang terbesar mengalahkan petahana Ahok.

2. Skenario #2 adalah mendukung petahana Ahok, dan PDIP hanya menempatkan kadernya Jarot Syaiful Hidayat sebagai wakil. Bagi PDIP skenario ini adalah yang paling kecil keuntungannya, bila tidak ingin dikatakan PDIP sebenarnya sudah kalah sebelum bertanding. Bahkan pilihan mendukung petahana akan menambah sakit hati kader-kader utama mereka sendiri yang sudah terlanjur kecewa dan marah dengan sikap Ahok yang meremehkan peranan Partai Politik dalam Pilkada DKI ini.

Buat Megawati pilihan mendukung Ahok juga bukan pilihan terbaik, namun sebagai King Maker dia harus bisa mengambil setiap peluang yang menguntungkan buat partai. Oleh karena itu Megawati tetap menunjukan dukungannya kepada Ahok, setidaknya tidak menyerang Ahok seperti dilakukan oleh kader-kader PDIP lainnya.

Namun akhirnya PDIP mengumumkan dukungan kepada Ahok yang dipasangkan dengan kader mereka Jarot. Resmilah paslon Ahok-Jarot ini menjadi paslon pilkada DKI 2017.

Apakah pilihan yang merugikan ini sudah final…?

PDIP sebagai partai pemenang pemilu sangat lihai memainkan berbagai manuver politik, sebenarnya memiliki skenario cadangan yang akan dimainkan melihat situasi dan perkembangan pasca semua Paslon sudah diumumkan dan didaftarkan ke KPU.

Skenario inilah yang tidak dipahami oleh Ahok yang dengan bangga mengatakan bahwa dia akan memenangkan Pilkada DKI 2017, sudah lah didukung oleh teman Ahok dengan sejuta KTP, didukung pengusaha besar, dan terakhir mendapat dukungan Partai Pemenang Pemilu. Ahok dalam posisi untung besar sementara PDIP untung sedikit bahkan rugi, karena kadernya hanya sebagai wakil saja.

Skenario cadangan ini sesungguhnya terasa kejam, namun dalam politik tidak ada teman abadi yang ada hanyalah kepentingan. Pilkada DKI 2017, akan dijadikan ladang pembantaian (Killing Field) bagi Ahok…. Petahana ini hanya akan diberi kesempatan bernafas sampai menjelang masa kampanye agar bisa diperas potensinya terutama dukungan pendanaan dari pengusaha besar di belakang Ahok. Setelah itu Ahok akan dibongkar semua kejahatannya dan dijadikan tersangka….!!

Namun PDIP harus hati-hati karena pembongkaran kejahatan dan kasus-kasus Ahok bisa menyeret Jokowi dalam kesulitan yang akhirnya akan merugikan PDIP juga. Bermaksud mendapatkan keuntungan besar, keuntungan kecil yang sudah ditangan dilepaskan.

Jadi skenario cadangan ini adalah menghentikan langkah Ahok sebagai calon Gubernur dan menggantinya dengan kader PDIP lainnya untuk dipasangkan dengan Jarot. Pasti Anda semua sudah bisa menduga siapakah dia….?

Bersambung….

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone