Bolehkah Menggunakan Tasbih dalam Berdzikir?

Alumnikampus.com – Tasbih dalam bahasa Arab disebut sebagai subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk ‘baru’. Sesuai namanya tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), dan sebagainya. Untuk zaman Rasulullah saw. untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari, kerikil-kerikil, biji-biji kurma atau tali-tali yang disimpul.

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح بيمينه (رواه أبو داود)

“Pernah kulihat Nabi saw menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Daud)

Karena Rasulullah Saw tidak secara langsung mencontohkan praktik penggunaan tasbih dalam berdzikir seperti yang banyak kita jumpai di masyarakat, maka bagi golongan yang anti tehadap bid’ah mengunakan “tema” tasbih sebagai salah satu dari berbagai bid’ah yang dilakukan oleh umat Islam. Karena bid’ah maka mereka ada yang menghukumi haram menggunakan tasbih.

Berikut dalil-dalil penggunan tasbih bukanlah bid’ah sebagai media berdzikir kepada Allah:

  1. Hadits Saad bin Abi Waqqash

حديث سيدنا سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه. وفيه : “أنه دخل مع رسول الله صلى الله عليه وسلم على امرأة وبين يديi. فقال: ألا أخبركِ بما هو أيسر عليك من هذا وأفضل؟ سبحان الله عدد ما خلق في السماء، وسبحان الله عدد ما خلق في الأرض، وسبحان الله عدد ما بين ذلك، وسبحان الله عدد ما هو خالق، والله أكبر مثل ذلك، والحمد لله مثل ذلك، ولا إله إلا الله مثل ذلك، ولا حول ولا قوة إلا بالله مثل ذلك”

رواه أبو داود في : “السنن” (4/366) والترمذي في : “الجامع” (برقم: 3568) وقال : “هذا حديث حسن غريب” . وصححه الحاكم في : “المستدرك” (1/547) وجماعة. وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى في : “نتائج الأفكار” (1/81) : “هذا حديث حسن” ا.هـ.

Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash ; bahwasanya beliau bersama Rasulullah pernah menjumpai seorang perempuan yang sedang berdzikir dengan biji kurma atau kerikil yang berada di kedua tangannya. Maka Rasulullah bersabda: “Akan kuberitahu kepadamu tentang sesuatu yang lebih mudah dan lebih utama dari hal ini”. Kemudian beliau bersabda: “Yaitu (engkau mengucapkan) Subhanallah sebanyak apa yang telah Allah ciptakan di langit, (ditambah dengan) sebanyak apa yang Allah ciptakan di bumi, (dan ditambah dengan) sebanyak apa yang telah Allah ciptakan diantara keduanya, (kemudian ditambah lagi dengan) jumlah-Nya sebagai pencipta. Kemudian mengucapkan Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, dan Laa haula walaa quwwata illa billah seperti itu.”

Syaikh Ali al Qari berkata didalam kitab المرقاة : hadits ini shahih berdasarkan taqrir Nabi Saw terhadap perempuan tsb. Sama saja biji batu tasbih dalam ikatan benang atau batu krikil biasa yg terpisah pisah. Begitu juga Ibnu Allan dalam kitab Syarhul Adzkar (1/13) dengan pendapat sama seperti Syaikh Ali Al Qori’ .

  1. Atsar Para Sahabat :

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: Riwayat tentang penggunaan tasbih dengan menggunakan batu atau kurma, banyak berasal dari para sahabat dan Ummul Mu’minin, bahkan Rasulullah melihat mereka menggunakan tasbih dan mendiamkannya . ( المرقاة : ٢/٣٦٣ ) .

Di antaranya :

  1. Riwayat Abu Nuaim dalam kitab Hilyatul Auliya’ .

حدثنا أحمد بن جعفر بن حمدان ثنا عبدالله بن أحمد بن حنبل ثنا الحسن بن الصباح ثنا زيد بن الحباب عن عبدالواحد بن موسى قال أخبرني نعيم بن المحرر بن أبي هريرة عن جده أبي هريرة أنه كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به  (حلية الأولياء لابي نعيم الحلية الاولياء – ج 1 / ص 383)

“Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki tali yang terdiri dari 1000 ikatan (bundelan). Beliau tidak tidur sampai bertasbih dengannya.” (Abu Nuaim, Hilyat al-Auliya’ 1/383)

  1. Dari Ibnu Saad dalam kitab الطبقات , Dari Fatimah anaknya Husein bin Ali bin Thalib, Adalah beliau bertasbih dengan ikatan benang. Imam Al Kanawi Rahimahullah berkata dalam kitab Majmuaturrasail: 1/13

Maka dua Atsar di atas menunjukkan bahwa di bolehkannya bertasbih menggunakan batu yg berangkai seperti sekarang , atau batu terpisah pisah . tak ada bedanya juga antara batu tasbih dengan benang yg di ikat. karena itu semua hanya merupakan alat saja .

Para Imam madzhab tidak melarang menggunakan tasbih ketika berzikir.

  1. Imam As Sayuti berkata dalam kitab Al Hawi 2/6 : Tidak ada yang melarang menggunakan tasbih baik kalangan Salaf maupun Khalaf.
  2. Imam Nawawi berkata dalam kitab Tahdzibul Asma’ wallughat :

Tasbih: batu kecil yang dirangkai, selalu di pakai dlm berdzikir oleh Ahli Ibadah dan orang shaleh. Bahkan Imam Assayuti berkata Sebahagian besar ulama salaf maupun khalaf menggunakannya dan tidak ada yang memakruhkannya apalagi yang mengharamkannya.

  1. Imam Ali Al Qari’ berkata dlam kitab المرقاة شرح المشكاة : yang mengatakan bahwa penggunaan tasbih adalah bid’ah pendapat ini aneh dan mengada ngada.

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam kitab Majmu’ fatawa 22/506:

وأما التسبيح بما يُجْعَل في نظام من الخرز ونحوه فمن الناس من كرهه، ومنهم من لم يكرهه، وإذا أُحْسِنَتْ فيه النية فهو حَسَنٌ غير مكروه” ا.هـ

“Adapun tasbih yang terbuat dari batu yang di rangkai, sebagian mereka ada yang memakruhkannya sebagiannya tidak. Kalau baik niatnya maka menjadi ibadah yang berpahala hukumnya tidak makruh.”

Memang ada sementara ulama bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadits Ibnu Umar yang sudah disebutkan di atas. Namun dari segi maknanya (untuk sarana menghitung), kedua cara itu tidaklah berbeda.

Dari sisi lain, untuk menghitung tasbih dan tahlil, sebenarnya tasbih mempunyai manfaat utamanya bagi kita yang hidup di zaman sibuk ini. Dengan membawa tasbih, seperti kebiasaan orang-orang Timur Tengah (di sana tasbih merupakan assesori macam cincin dan kacamata saja), sebenarnya kita bisa selalu atau sewaktu-waktu diingatkan untuk berdziki mengingat Allah. Artinya, setiap kali kita diingatkan bahwa yang ada di tangan kita adalah alat untuk berdzikir, maka besar kemungkinan kita pun lalu berdzikir. Wallahu a’lam bish shawwab.

sumber: _http://www.fiqhmenjawab.net/2016/01/dalil-menggunakan-tasbih-dalam-berdzikir.html

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone