Do’a Mau Makan Yang Populer Tapi Bermasalah

PENGANTAR

Artikel ini membahas tentang do’a mau makan yang sudah lama di amalkan oleh mayoritas kaum muslimin padahal bermasalah meskipun populer, sekaligus dalam tulisan ini akan dijelaskan dimana letak permasalahannya, dan bagaimana sebenarnya do’a mau makan yang diajarkan oleh Baginda Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sumbernya valid, serta bisa dipertanggung jawabkan validitasnya.

Disamping itu artikel ini juga akan memaparkan dan mengungkapkan sebab-sebab mengapa do’a mau makan yang populer justru adalah do’a yang sumber riwayatnya bermasalah.

Pada bagian akhir dari tulisan ini akan dijelaskan apa pentingnya pembahasan ini ditengah hiruk pikuk cyber war terkait dengan tuntutan kaum muslimin agar ditegakkan keadilan hukum atas kasus yang melukai hati kebanyakan kaum muslimin khususnya di Indonesia, bukan _cyber war_nya yang mau diungkap, tetapi kenapa pembahasan tentang do’a mau makan ini penting setidaknya dalam perpektif saya selaku penulis artikel ini.

Jangan langsung ambil kesimpulan dulu, sebelum anda membaca semua kalimat yang ada dalam artikel ini secara utuh dan kritis, semoga bermanfaat.

BUKTI POPULARITAS DO’A INI

Hampir setiap santri TPA diseluruh pelosok negeri ini, diajarkan do’a mau makan, pun demikian di pondok-pondok pesantren, bahkan setiap perkumpulan warga muslim, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu, ketika akan menyantap hidangan yang disediakan seringkali dipimpin untuk berdo’a dengan do’a mau makan yang sangat populer ini.

Semua kita telah menghapalnya sejak kecil, do’a ini sangat populer disemua kalangan, mulai dari anak-anak pra TK, anak usia SD, anak muda bahkan juga orang dewasa telinganya sudah sangat akrab dengan do’a mau makan yang satu ini, saya hampir yakin semua yang membaca tulisan ini, sudah bisa menebak bagaimana bunyi do’a mau makan yang dimaksud.

Inilah do’a mau makan yang sangat populer itu, yang biasa kita lafalkan yang saya maksud ;

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا ، وقنا عذاب النار ، بسم الله.

“Allahumma Baarik Lanaa Fiimaa Razaqtanaa wa Qinaa ‘Adzaaban Naar, Bismillahi”

DARI MANA ASAL MULA DO’A MAU MAKAN INI…???

Jika kita pernah membuka-buka kitab “Amalu al-Yaumi wa al-Lailati” karya Ibnu As-Sinniy atau kitab “al-Adzkaar” karya Imam an-Nawawi, di kedua kitab tersebutlah kita akan menemukan do’a mau makan diatas.

Do’a ini berasal dari hadis yang diriwayatkan lewat jalur periwayat yang bernama Muhammad bin Abi Az-Zu’aiza’ah dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya ketika didekatkan kepada beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) makanan maka beliau membaca do’a ;… (redaksi do’anya telah disebutkan diatas).

Muhammad bin Abi az-Zu’aiza’ah inilah sumber bermasalah yang menyebarluaskan hadis yang konon katanya, isinya mengandung do’a mau makan yang dibaca Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

SIAPAKAH MUHAMMAD BIN ABI AZ-ZU’AIZA’AH… ???

Untuk meringkas maka nama tokoh yang akan saya bahas ini, namanya akan disingkat menjadi MBAZ, orang ini dalam penilaian Adz-Dzahabi sangat lemah, dha’if jiddan, begitu komentar Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Mizanul I’tidal” juz 3 halaman 548.

Sedangkan Abu Hatim mengatakan bahwa MBAZ ini adalah munkarul hadis jiddan, begitu pula penilaian Imam Bukhari atas sosok MBAZ, bahkan lebih keras lagi Abu Haatim mengatakan bahwa MBAZ adalah Ahlu Adzri’aat (orang yang banyak ngomong, kalau ngomong suka berlebihan).

Bahkan dalam kitab syarh al-Adzkaar sendiri yang judul lengkapnya “al-Futuhaat ar-Rabbaaniyah ‘ala al-Adzkaar an-Nawawiyah” yang ditulis oleh Muhammad Ali bin Muhammad ‘Allaan (Ibnu Allaan w. 1057) dijelaskan bahwa hadis tentang do’a mau makan yang sedang kita bahas ini adalah hadis yang didalamnya ada perawi yang bernama Ibnu Abi ar-Ru’aira’ah (ابن أبي الرعيرعة) dengan huruf “ra” sedangkan di kitab lain, diantaranya dalam kitab Ibnu As-Sinniy “Amalu al-Yaumi wa al-Lailati” pada halaman 217, disebut dengan nama Muhammad bin Abi az-Zu’aiza’ah (محمد بن أبي الزعيزعة) dengan huruf “zai” yang saya singkat dengan nama MBAZ, adalah perawi yang mungkarul hadits jiddan (orang yang hadisnya sangat lemah sekali) sebagai mana dikutip oleh Ibnu Allan dari perkataan Imam al-Bukhari, begitu juga dengan Ibnu Addiy, ia mengingkari hadis-hadis yang bersumber dari MBAZ, dengan mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak diikuti, sebagaimana hal ini disebutkan juga oleh Ibnu Hibban dalam kitab “ad-Dhu’afaa”, ini catatan dari Ibnu Allan sebagai pensyarah kitab al-Adzkaar an-Nawawiyah dalam kitabnya al-Futuhaat ar-Rabbaaniyah juz ke-5 halaman 118.

Lain lagi dengan komentar ibnu Hibban atas MBAZ, dia adalah orang yang suka meriwayatkan hadis palsu, bahkan lebih ngeri lagi Ibnu Hibban mengatakan bahwa MBAZ adalah rajanya pendusta dari para pendusta yang ada, begini ungkapan Ibnu Hibban dalam bahasa aslinya ;

محمد ابن الزعيزعة… دجال من الدجاجلة كان يرى الموضوعات.

Oleh karenanya hadis tentang do’a mau makan diatas tidak shahih, kami memandang hadisnya lemah sekali, demikian penegasan dari Ibnu Hibban sebagaimana beliau katakan dalam kitab al-Majruuhin Juz 2 pada halaman 289.

Dengan demikian do’a mau makan yang berbunyi ; “Allahumma Baarik Lanaa Fiimaa Razaqtanaa wa Qinaa ‘Azaaban Naar..” bukanlah do’a yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena sumbernya bukan hadis maqbul (shahih atau hasan), bahkan lebih dari itu, hadisnya adalah hadis yang sangat lemah (dha’if Jiddan).

Jika ada ulama yang berpandangan bolehnya mengamalkan hadis lemah dalam bab fadhailul a’maal (keutamaan-keutamaan amal), perlu saya tegaskan bahwa pembolehan tersebut memiliki syarat, syarat yang dimaksud adalah selama hadis lemah tentang keutamaan amal itu kelemahannya tidak parah, bukan hadis yang dha’if jiddan.

BAGAIMANAKAH DO’A MAU MAKAN YANG DIAJARKAN NABI… ???

Do’a paling pendek yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat mau makan, adalah mengucapkan “bismillahi”, do’a ini sumbernya berdasarkan hadis shahih riwayat Abu Dawud dan at- Tirmidzi, dari riwayat Aisyah radhiyallahu anhaa, jika dia lupa mengucapkan bismillah, diawal saat mau makan, baru ingat pas ditengah-tengah makan atau ketika makanan sudah mau habis maka hendaklah dia membaca ; “Bismillahi fii awwalihi wa aakhirihi” ini penting dibaca, dampaknya sangat luar biasa…seperti yang dijelaskan oleh baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis dibawah ini ;

عن أُمَيَّةَ بْنِ مَخْشِيٍّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلَّا لُقْمَةٌ فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِي بَطْنِهِ. (رواه أبو داود باب التسمية على الطعام).

Artinya : Dari Umayyah bin Makhsyi seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah duduk, sementara ada seorang laki-laki makan dan tidak menyebutkan nama Allah hingga makanannya hanya tersisa satu suap, kemudian tatkala ia mengangkatnya ke mulut ia mengucapkan; BISMILLAAHI AWWALAHU WA AAKHIRAHU (Dengan nama Allah, pada awal dan akhirnya), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa kemudian berkata: “Setan terus makan bersamanya, kemudian tatkala ia menyebutkan nama Allah Azza wa Jalla, maka setan memuntahkan apa yang ada di perutnya.”… (HR. Abu Daud Bab Membaca basmalah sebelum makan).

Dahsyat bukan dampak do’a yang diajarkan Nabi yang sebaiknya kita baca ditengah-tengah makan atau disuapan terakhir, jika memang kita lupa membaca do’a saat mau makan diawal waktu…???, oleh karenanya bacalah do’a diatas meskipun di saat suapan terakhir makan kita…???

ADAKAH DO’A LAIN SELAIN “BISMILLAH”… ???

Dalam hadis maqbul riwayat Imam Ahmad, dan at-Tirmidzi dalam kitab sunan-nya, silahkan dibuka kitab tentang do’a, khususnya pada bab do’a yang dibaca ketika hendak makan, ada do’a yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; “Allahumma Baarik Lanaa Fiihi wa Ath’imnaa Khairan Minhu” redaksi dalam tulisan Arabnya bisa dilihat sebagaimana berikut ;

اللهمّ بارك لنا فيه وأطعمنا خير منه.

Riwayat tentang do’a diatas ini juga disebutkan dalam kitab Ibnu as-Sinniy “Amalu al-Yaumi wa al-Lailati” juga dicantumakan dalam “Hisnul Muslim” karya Syeikh Said bin Ali bin Wahf al-Qahthaniy, termasuk juga bisa kita temukan dalam kitab sunan Ibnu Majah dalam kitab Makanan ;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَارْزُقْنَا [وفي رواية من أبي داود والترمذي وأحمد : “وأطْعِمْنَا” بدلا من كلمة “وارزقنا”] خَيْرًا مِنْهُ…(رواه ابن ماجه كتاب الأطعمة)

Artinya : Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dianugerahi makanan oleh Allah, maka hendaklah ia mengucapkan ; “Allahumma Baarik Lanaa Fiihi wa-r- Zuqnaa [ dalam riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad menggunakan kata “wa Ath’imnaa” sebagai ganti dari kata “wa-r-Zuqnaa”] Khairan Minhu” yang artinya : ‘Ya Allah berkahilah kami di dalam makanan ini, dan berilah kami rizki [berikanlah kepada kami makanan] yang lebih baik darinya.’ (HR. Ibnu Majah Kitab Makanan).

Imam at-Tirmidzi memberikan komentar atas riwayat ini dengan mengatakan ; “hadzaa haditsun hasanun” ini adalah hadis Hasan.

KENAPA DO’A MAU MAKAN YANG POPULER KOK DO’A YANG HADISNYA LEMAH… ???

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa sisi yang perlu kita tinjau dengan seksama ;

1. Pertama ; secara geografis-fiqih centris Indonesia merupakan wilayah yang mayoritas penduduk muslimnya bermazhab dengan mazhab as-Syafi’iyyah, dulu bahkan mungkin sampai sekarang (perlu ada penelitian) kebanyakan ulama Indonesia belajar dari ulama-ulama mazhab Syafi’iy, atau mempelajari kitab-kitab yang ditulis oleh ulama yang bermazhab Syafi’iy.

Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi atau yang populer dengan nama Imam an-Nawawi penulis kitab “al-Adzkaar min Kalaami Sayyidil Abraar al-Musamma Hilyatul Abraar wa Syi’aarul Akhyaar” adalah ulama terkemuka di kalangan mazhab Syafi’iy. Kitab tentang do’a karya Imam Nawawi ini biasa di kenal dengan nama “al-Adzkaar an-Nawaawiayah”.

Maka bukanlah hal yang aneh, atau sangatlah logis jika di Indonesia, mayotitas ulamanya, kyainya, asatidznya, santri-santrinya banyak merujuk ke kitab-kitab ulama mazhab Syafi’iy.

Salah satu kitab yang hampir bisa dipastikan pernah dibaca dan dijadikan rujukan oleh para ulama, kyai, asatidz dan santri dalam masalah do’a-do’a adalah kitab al-Adzkaar ini.

Dalam kitab al-Adzkaar inilah do’a mau makan yang sangat populer itu tercantum, bisa dipastikan dari kitab al-Adzkaar inilah sumber utamanya. Tapi sayangnya Imam Nawawi tidak memberikan komentar apapun atas riwayat yang berisi tentang do’a mau makan yg sedang dibahas ini. Inilah yang menyebabkan do’a ini menjadi sangat populer, dikarenakan para ulama Nusantara mengajarkannya kepada para santri dan masyarakat tanpa ada keraguan sedikitpun, disebabkan tidak ada catatan apapun dari Imam Nawawi atas riwayat tentang do’a mau makan ini.

2. Kedua ; alasan mengapa do’a “Allahumma Baarik Lanaa fii Maa Razaqtanaa wa Qinaa Adzaaban Naar, Bismillahi” ini menjadi begitu sangat populer di masyarakat Indonesia khususnya, adalah karena do’a inilah yang disebutkan pertama kali oleh Imam Nawawi ketika beliau membahas bab tentang do’a makan dan minum. Maka tentu secara psikologis ia akan mendapatkan perhatian khusus dari para pembacanya. Karena dia muncul di awal pembahasan.

3. Ketiga ; Dari sisi makna, do’a mau makan yang populer ini dari sisi makna, memang terasa lebih mantap dibanding do’a mau makan lain yang riwayatnya lebih kuat sebagaimana sudah penulis jelaskan diatas. Coba perhatikan dan bandingkan makna kedua do’a mau makan dibawah ini, yang pertama hadisnya dha’if dan yang kedua hadisnya hasan ;

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار.

Artinya : Ya Allah berkahilah untuk kami pada sesuatu (makanan) yang telah rezekikan kepada kami ini, dan peliharalah (jagalah) kami dari siksa api neraka.

اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيرا منه.

Artinya : Ya Allah berkahilah untuk kami apa yang ada didalamnya (makanan ini) dan berikanlah kepada kami makanan yang lebih baik darinya (makanan ini).

Siapapun yang berpikir sekilas tanpa perenungan yang mendalam pasti akan mengatakan do’a mau makan yang pertamalah yang lebih berbobot dari sisi maknanya, apalagi kita semua selaku hamba Allah tentu merasa takut dari Adzab neraka. Maka secara psikologis pasti akan memilih do’a yang pertama.

Tapi ikhwah sekalian sesuatu yang terasa lebih baik secara makna belum tentu lebih baik secara dzatnya. Karena ukuran baiknya sesuatu dalam mengamalkan ajaran agama ini adalah ikhlasnya dan ittiba’nya kepada apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dari sisi maknanya, karena do’a yang baik dari sisi makna, apalagi jika ini terkait dengan do’a amalan khusus yaitu mau makan, jika tidak pernah diajarkan Nabi, padahal ada do’a lain yang diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka do’a yang baik dari sisi maknanya tadi menjadi tidak lebih baik daripada do’a lain yang justru diajarkan oleh Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam. Jika kita tetap ngotot mengamalkan do’a yang kita anggap lebih maknanya itu padahal tidak diajarkan Nabi, maka ini berarti kita telah menyelisihi sunnah Nabi.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin sedikit mengulas makna do’a yang kedua berdasarkan hadis yang hasan diatas.

Coba perhatikan lagi do’a dan maknanya ;

اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيرا منه.

Artinya : Ya Allah berkahilah untuk kami apa yang ada didalamnya (makanan ini) dan berikanlah kepada kami makanan yang lebih baik darinya (makanan ini).

Saya akan memberikan catatan, khususnya pada kalimat : “dan berikanlah kepada kami makanan yang lebih baik darinya (makanan ini)” apa yang dimaksud dengan yang lebih baik pada kalimat ini… ???, maksudnya adalah makanan sorga, sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Syarh Hisnul Muslim” karya Majdi bin Abdi al-Wahhaab al-Ahmad pada halaman 196, logikanya karena makanan sorga pasti lebih baik dari makanan dunia. Nah orang yang mendapatkan makanan sorga tidak mungkin masuk neraka, dengan demikian pada saat kita membaca do’a yang berdasarkan hadis hasan ini, selain kita minta keberkahan kepada Allah dari makanan yang kita makan, juga dalam waktu yang sama kita sedang meminta kepada Allah untuk dimasukkan kedalam sorga-Nya kelak, karena di sorga sana-lah semua makanannya pasti lebih baik daripada makanan dunia, sekaligus ini artinya kita juga sedang memohon kepada Allah untuk dipelihara dari adzab neraka, lebih mantap bukan maknanya… ???

PENTINGNYA PENJELASAN INI

Mengapa saya menulis ini, karena bagi saya, ini sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat luas wa bil khusus kaum muslimin dan muslimat, sebagai bentuk kepedulian dan ajakan untuk mengikuti Nabi (ittibaa’) secara lebih sempurna,  karena kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah sampai Allah betul-betul mencintai kita sebagai hamba-Nya yang taat, dan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, disebabkan usaha kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh dan lebih sempurna. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imraan ayat ke-31.

Selain itu, tulisan ini sekaligus untuk memberikan peringatan kepada kaum muslimin agar kita tidak mudah menerima informasi begitu saja dari sumber yang tidak valid, seperti yang kita saksikan sendiri, mudah termakan isu yang tidak jelas, saat ini penyakit mudah menerima informasi tanpa melakukan tabayyun atau penelitian terlebih dahulu sudah menjangkiti kaum muslimin secara masiv dan sudah seperti menjadi penyakit akut. Tentu keadaan ini sangat memprihatinkan, oleh karenanya saya niatkan menulis penjelasan ini dalam rangka untuk saling mengingatkan akan pentingnya bersandar pada sumber informasi yang valid.

Hadis Nabi adalah sumber informasi yang sangat berharga bagi kaum muslimin karena ia adalah petunjuk setelah al-Qur’an, barangsiapa berpegang teguh kepada keduanya maka dia tidak akan tersesat selama-lamanya. Oleh karenanya telitilah dalam menerima suatu hadis, bertanyalah kepada ahlinya, jika kita merasa ragu dan belum yakin, atau jika kita sudah mengetahuinya dari para ulama, maka sampaikanlah mana hadis yang maqbuul (shahih/hasan) sumbernya dan mana yang marduud (dha’if/maudhuu’). Setelah kita mengetahuinya, maka amalkanlah hadis shahih atau hasan, dan tinggalkanlah hadis yang lemah apalagi palsu.

KESIMPULAN

1. Do’a mau makan yang berbunyi ; “Allahumma Baarik Lanaa fii Maa Razaqtanaa wa Qinaa Adzaaban Nar” adalah do’a yang populer tapi hadisnya bermasalah karena ada salah satu perawi dalam rangkaian sanadnya yang bernama Muhammad bin Abi az-Zu’aiza’ah dan ia adalah orang yang dianggap lemah sekali oleh para ahli hadis, bahkan ia dimasukkan dalan kategori orang yang suka memalsukan hadis.

2. Do’a mau makan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain mengucapkan “Bismillah” berdasarkan hadis yang maqbul adalah ; “Allahumma Baarik Lanaa Fiihi wa ‘Ath’imnaa Khairan Minhu” dalam redaksi arabnya tertulis demikian ;

اللهم بارك لنا فيه وأطمنا خيرا منه.

3. Apabila kita lupa berdo’a ketika mau makan, maka tetaplah berdo’a meskipun ditengah-tengah makan, atau bahkan meskipun sudah sampai disuapan terakhir, dengan do’a yang berbunyi ; “Bismillahi fii Awwalihi wa Aakhirihi”, maka setanpun akan memuntahkan makanan dari mulutnya yang dia ambil dari membersamai kita ketika makan karena lupa berdo’a. [] @AHU.

* *

Milran,
Rabu, 09 Shafar 1438 H / 09 November 2016 M

Ahmad Hasanuddin Umar *)
*) Penulis adalah Pengajar di Ponpes Darul Mushlihin Yogyakarta.⁠⁠⁠⁠

sumber: https: //ahasanuddinumar.wordpress.com/2016/11/09/doa-mau-makan-yang-populer-tapi-bermasalah/

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone