Hakikat Melaksanakan Sholat dalam Tafsir Ibnu Katsir

Alumnikampus.com – Sholat adalah tiang agama, dalam ayat awal surat al baqarah Allah memerintahkan umat Islam untuk sholat. Artikel berikut ini mengulas tentang makna hakikat melaksanakan sholat yang terdapat dalam tafsir ibnu katsir juga hadits-hadits tentang sholat ini. Semoga bermanfaat.

Makna melaksanakan sholat

hakikat melaksanakan sholat

Yang dimaksud dengan ..melaksanakan sholat.. adalah mendirikan sholat dengan menunaikan fardhu-fardunya. Ad dahak berkata, dari ibnu Abbas RA, yang dimaksud dengan ..melaksanakan sholat.. adalah sempurna rukuk, sujud, bacaan, kekhusyuan dan sempurnanya menghadap kiblat. Qatadah berkata ..melaksanakan sholat.. adalah menjaga waktu-waktunya, wudhunya, rukuknya dan sujudnya. Muqotil ibnu hayyan berkata, ..melaksanakan sholat.. adalah menjaga waktu-waktunya, menyempurnakan wudhunya, bacaan al qur’an, tasyahud dan sholawat kepada nabi muhammad SAW, inilah yang dimaksud dengan melaksanakan shalat.

Ibnu katsir menyebutkan, dalam banyak ayat al Qur’an sering kali Allah SWT menyandingkan shalat dengan infak di dalamnya, hal itu tiada lain karena sholat semata-mata adalah hak Allah SWT dan representasi seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya.

Sholat juga termasuk kepada bentuk doa, tawakkal, pengagungan, penghambaan, peng-Esa-an dan sanjungan seorang hamba terhadap-Nya.

Sedangkan infak adalah representasi kebaikan terhadap sesama makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka semampu kita. Kepada orang-orang yang lebih prioritas mendapatkannya yakni keluarga terdekat, kerabat, hamba sahaya kemudian orang lain.

Imam ath thabari berpendapat bahwa orang yang melaksanakan sholat fardhu menjadi terbuka segala permintaan dengan amalan-amalan yang kemudian dibalas pahala oleh Allah SWT. Bahkan seiring dengan itu terbuka pula kemungkinan terkabulnya segala kebutuhan dan permintaan seseorang yang berdoa di saat melaksanakan sholat. (ibnu katsir, jilid 1: 269-271).

Keutamaan Sholat dan Posisinya

Dalam kitab Riyadus Shalihin disebutkan hadist yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat sekaligus menantu beliau yakni Utsman bin ‘affan, yang artinya:

“Tidaklah seorang muslim yang tiba kepadanya waktu sholat fardhu, lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuknya dan rukuknya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu berlaku pada semua masa”. (HR. Muslim).

Dalam kitab hadits sunan at tirmidzi juz 5, no hadits 2616 disebutkan bahwa sahabat muadz bin jabal RA pernah berkata yang artinya “Wahai, Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga dan menjauhkanku dari neraka”.

Beliau menjawab yang artinya “kamu telah menanyakan kepadaku tentang perkara yang besar, kendati sungguh ia merupakan perkara yang ringan bagi orang yang telah dijadikan ringan oleh Allah. Amalan itu adalah beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, berhaji ke baitullah”.

Rasulullah melanjutkan dengan sabdanya yang artinya “Maukah kau ku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Amalan itu adalah puasa yang akan menjadi perisai, sedekah akan menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan sholat seorang laki-laki pada pertengahan malam.”

Lantas Nabi Muhammad SAW malanjutkan “maukah aku tunjukkan kepadamu pokok agama, tiangnya dan puncaknya?” Lalu saya menjawab, “Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda yang artinya “Pokok agama adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad”. (HR. At Tirmidzi).

Something To Do

Mari perbaiki ibadah kita khususnya dalam melaksanakan sholat, dengan menjaga waktu-waktunya, mewujudkan kekhusyukan dalam melaksanakannya. Khusyuknya sholat dapat kita lakukan dengan sering berlatih menemukan kenikmatan sholat dengan menghayati setiap apa yang kita ucapakan dalam sholat. Juga menanamkan bahwa dalam jiwa kita bahwa sholat adalah “ibadah yang istimewa” yang harus selalu diperbagus. Dalam sholatlah kita bertemu, mengadu masalah yang kita hadapi dan “melaporkan” aktivitas kita didunia kepada Sang Maha Pecipta, Raja Manusia.

Suasana lingkungan dan tempat sholat didalam rumah sangat berpengaruh mewujudkan ini. Jangan berharap kita bisa sholat khusyuk dirumah, jika tempat sholat dirumah yang kita sediakan biasa saja, tetapi untuk ruang tamu kita desain senyaman mungkin. Padahal tidak setiap hari ada tamu kerumah kita.

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone