Khilafah Rasyidah: Janji dan Pertolongan Allah

Alumnikampus.com – Kembalinya Khilafah adalah janji Allah. Allah berfirman, “Wa’ada-Llahu al-ladzina amanu minkum wa ‘amilu as-shalihati la yastakhlifannahum fi al-ardhi” [Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian untuk memberikan Khilafah di muka bumi].

Berjuang menegakkan Khilafah adalah kewajiban, bahkan telah disebut oleh para ulama’ sebagai “Ahammi al-wajibat” [kewajiban yang paling penting]. Khilafah merupakan solusi, terutama bagi negeri ini. Ketika, negeri ini telah dicengkram oleh Neo-Liberalisme dan Neo-imperialisme. Kembalinya Khilafah hari ini juga bukan ilusi. Karena ia merupakan kenyataan yang hampir menjadi fakta dalam kehidupan kita.

Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan Allah, acara Rapat dan Pawai Akbar 1436 H yang dilakukan oleh HTI telah berjalan dengan sukses. Meski di tengah terik matahari yang luar biasa panas, peserta tak surut. Mereka bertahan hingga selesai. Peserta yang hadir diperkirakan mencapai 100 ribu lebih. Peristiwa ini mengingatkan kita pada Perang Tabuk.

Perang yang dipimpin oleh Rasulullah saw. bersama 30,000 tentara kaum Muslim melawan emperium Romawi. Ketika itu, Nabi saw. berangkat dari Madinah tepat bulan Rajab 9 H. Suhu panas saat itu diperkirakan mencapi 40oc, sangat panas. Bukan hanya panas, Madinah saat itu pun gagal panen, dan banyak tanaman yang rusak.

Sementara biaya yang dibutuhkan untuk peperangan ini sangat besar, karena besarnya jumlah pasukan dan jarak antara Madinah dan Tabuk, yang ada di wilayah Syam, sangat jauh. Musuh yang dihadapi pun bukan musuh biasa, tetapi negara adidaya, Romawi. Karena itu, tingkat kesulitan misi pasukan ini pun luar biasa. Wajar, jika pasukan ini kemudian disebut Jaisy ‘Usyrah [tentara sulit].

Apakah dalam situasi seperti ini nyali kaum Muslim ciut? Tidak. Hanya orang-orang Munafik yang kendur nyalinya. Lihat, ketika kaum Muslim berlomba menginfakkan hartanya, ‘Utsman bin ‘Affan memberikan 200 unta, dengan pelananya, 200 Auqiyyah, ditambah 1000 Dinar yang diserahkan di kamar Nabi saw. Dia pun terus menginfakkan hartanya, hingga 700 unta, 100 kuda, selain uang. Sampai Nabi saw. pun memberikan kesaksian untuknya, “Setelah hari ini, tidak ada satupun perbuatan yang bisa membahayakan ‘Ustman.” [Hr. at-Tirmidzi].

Setelah itu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf datang membawa 200 Auqiyah Perak. Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, dan tak menyisakan sedikit pun untuk keluarganya. Jumlahnya mencapai 4000 Dirham. ‘Umar datang dengan membawa separo hartanya. ‘Abbas membawa harta yang banyak. Thalhah, Sa’ad bin ‘Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah, semuanya membawa harta. Kaum Muslim pun berbondong-bondong menginfakkan hartanya, ada yang banyak dan sedikit. Kaya dan miskin, semuanya berinfak, tanpa kecuali. Bahkan, ada yang hanya memberikan 1 atau 2 Mud. Tak ada seorang pun yang menahan hartanya, kecuali orang Munafik.

Orang-orang Munafik ini bukan hanya tidak mau ikut berperang, dan tidak mau berinfak, tetapi mereka juga terus-menerus menghembuskan “jiwa pengecut” di tengah-tengah kaum Muslim. Allah menegaskan (yang artinya):

“Orang [Munafik] yang ditinggalkan [tidak ikut berperang] itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat [berperang] dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Neraka Jahannam itu lebih dahsyat panasnya.” Jika mereka tahu. Biarkanlah mereka tertawa sedikit [di dunia], dan banyak menangis [di akhirat] sebagai balasan dari apa yang telah mereka lakukan.” [Q.s. at-Taubah: 81-82]

Lalu apa hasil jerih-payah kaum Muslim dalam Perang Tabuk? Tentara negara adidaya Romawi itu pun melarikan diri, tidak berani menghadapi Jaisy ‘Usyrah yang luar biasa itu. Mereka gemetar setelah mendengar kehebatan Jaisy ‘Usyrah yang sanggup menaklukkan berbagai rintangan, mulai dari suhu panas di atas 40 derajat Celcius, logistik yang tak memadai dan perjalanan yang sangat jauh. Jaisy ‘Usyrah ini pun meraih kemenangan tanpa perang.

Rapat dan Pawai Akbar: Edukasi Politik dan Perjuangan Penegakan Khilafah Rasyidah

rapat dan pawai akbar jakarta pasukan royahSekali lagi, hanya izin dan pertolongan Allah SWT, yang telah mengantarkan Rapat dan Pawai Akbar 1436 H sukses diselenggarakan di seluruh Indonesia. Acara yang dihelat mulai bulan Mei s/d Juni 2015 ini memang spektakuler dan luar biasa.

Pertama, karena acaranya bersifat kolosal, sehingga meneguhkan keyakinan kita dan orang lain, bahwa dakwah untuk menegakkan syariah dan Khilafah di negeri ini mendapatkan respons dan dukungan yang luar biasa dari umat.

Kedua, karena diselenggarakan di berbagai kota, di lebih dari 30 kota, maka gaung acara dan efeknya, yaitu opini tentang syariah dan Khilafah juga begitu meluas di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Karena, informasi tersebut telah dishare melalui berbagai media.

Ketiga, kombinasi antara Konferensi [Rapat] dan Pawai, meski ada berita beberapa “pimpinan media” yang dikuasai orang-orang Kafir dan Liberal melarang untuk menyiarkan acara-acara HTI, bahkan untuk “menyewa slot” pun tidak bisa, karena jajaran pengelola bahkan simpatisannya telah dicopoti, tetapi dengan izin Allah, tetap saja ada celah. Tidak sedikit media tetap memberitakan acara ini.

Keempat, meski berbagai upaya untuk menggagalkan acara ini dilakukan. Mulai dari desakan dari kelompok tertentu kepada aparat, sampai pejabat di daerah, bahkan ancaman, agar tidak mengizinkan, mendukung atau menghadiri acara ini, tetapi tetap saja acara tersebut bisa berjalan. Teror spanduk pun dilakukan, bukan hanya menolak acara, tetapi juga HTI. Bahkan, ada yang meminta supaya bendera Nabi saw. Rayah dan Liwa’ itu dicabut, tetapi semuanya itu tidak dihiraukan oleh panitia. Karena itu urusan mereka dengan Allah. Alhamdulillah, bendera-bendera itu pun tetap berdiri kokoh dijaga oleh Allah dan para malaikat-Nya.

Kelima, dampak dari acara ini, meski tidak begitu massif diberitakan di media, tetap saja efeknya luar biasa. Bahkan, ada postingan yang sampai ke saya, bahwa pengurus Gelora Bung Karno diganti, karena mengizinkan acara Rapat dan Pawai Akbar 1436 H. Ini sama dengan kasus di TVRI 2 tahun lalu. Buntut dari penayangan acara Muktamar Khilafah, jajaran pengurus dan pendukung acara tersebut harus kehilangan jabatan. Bahkan, acara Ustadz Fellix pun dihentikan tayangannya.

Keenam, serangan terhadap acara HTI ini bukan saja datang dari kaum penolak Khilafah, tetapi juga dari kalangan yang pro-Khilafah “abal-abal”. Keduanya, sama-sama didasari sikap “apriori” membabi buta, sehingga tidak lagi bisa melihat kebenaran. Bahkan, mohon maaf, dengan bahasa yang sangat kasar, amoral dan jorok [tidak senonoh]. Semuanya memang tidak perlu ditanggapi, karena percuma. Karena, keduanya bukan untuk mencari kebenaran. Menanggapi serangan seperti itu hanya membuang energi. [dari berbagai sumber]

 

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone