Kisah penjual pulsa yang tuna netra di yogjakarta

Alumnikampus.com – Perjuangan tidak kenal menyerah dilakukan oleh Wardi (34), pemilik Anugrah Cell di Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta. Meski memiliki kekurangan yakni tuna netra, namun tidak menyurutkan keinginannya untuk membuka konter pulsa kecil. Wardi bahkan sering ditipu karena keterbatasannya.

Saat berkunjung ke kiosnya, pelanggan tidak menulis nomor handphone di buku yang biasa dimiliki oleh konter pulsa. Namun, Wardi menulisnya dengan reglet, stilus dan koran bekas. Alat-alat tersebut digunakan untuk menulis huruf braile. “Ini namanya reglet untuk nulis braile, caranya ditaruh di atas kertas bekas, lalu ditandai titiknya dengan stilus,” terangnya.

Dia menceritakan, awalnya membuka konter pulsa sejak 2011. Ide itu ketika waktunya banyak terbuang untuk menunggu pelanggan pijat di Panti Pijat Mardihuto milik yayasan mata dr YAP, Yogyakarta. Untuk menghilangkan waktu yang terbuang dia memilih untuk membuka konter pulsa. Namun, saat ada panggilan untuk memijat dia meninggalkan konternya untuk memijat pelanggan.

Selain itu, uang yang dihasilkan dari pijatnya, dibagi 40-60, untuk pemijat 60 persen. Karena uang yang didapat tidak banyak, dirinya memilih membuka konter pulsa. ” Kalau nanti ada pelanggan, saya ditelefon dari yayasan, balik dulu mijet,”ucapnya.

Wardi mengaku, pada awal dirinya membuka usaha tersebut, sales sempat bingung untuk memberikan aplikasi kepadanya. Sebab, belum ada tuna netra berjualan pulsa. Untuk itu, ia mencoba memasukkan pulsa sesuai arahan sales. Untuk modal awal sebesar Rp 1 juta. Selama beberapa hari dia tetap di dampingi sales. “Mereka awalnya bingung, tetapi setelah praktek ternyata bisa. Saya tahu mereka khawatir jika saya ditipu,”ucapnya.

Hasil berjualan pulsa mulai pukul 07.00 -18.00 WIB digunakan untuk menghidupi seorang anak dan istri yang dinikahi sejak 2008 lalu, sekarang tinggal di Muntilan, Jawa tengah. Dengan penghasilan sekira Rp 50 ribu, dirasakan mampu mengurangi beban hidupnya. “Kehidupan itu jangan hanya mengharap hujan jatuh dari langit. Semua harus dicari dan jangan mengandalkan orang lain,”ucapnya.

Namun semangat Wardi untuk mandiri banyak dimanfaatkan orang untuk menipunya saat berjualan pulsa. “Modusnya banyak mas, kadang kabur diam-diam, dan pura-pura ambil uang lalu kabur, Paling banyak pulsa seharga Rp700 ribu. Orangnya pura-pura ambil uang di ATM, tetapi setelah ditunggu tidak balik,”katanya.

Meski demikian dia memilih tidak melaporkannya ke polisi, dan memsarahkan kepada Tuhan. “Toh mereka berdosa, hitung saja amal,” katanya.

sumber: _http://news.okezone.com/read/2015/05/12/340/1148268/kisah-penjual-pulsa-tuna-netra

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone