Menaklukan Gunung Rinjani

Menikmati Danau-Segara-AnakAlumnikampus.com – Setelah turun dari puncak gunung Rinjani, kami hanya punya waktu sebentar untuk memasak, makan siang, dan membereskan tenda. Kemudian kami harus bergegas meninggalkan bukit Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak.

Sebelumnya sepanjang pagi dari pukul 01.00 WIT, kami menghabiskan waktu untuk menaklukan Puncak Gunung Rinjani.  Dan baru tiba di Bukit Plawangan sekitar pukul 10.00 WIB.

Siang itu saya merasa sangat lelah. Berjalan saja rasanya malas, apalagi harus menuruni bukit curam tersebut. Rasa lelah ini juga terpancar di wajah teman-teman saya. Apalagi mereka yang belum tidur semalaman.

Namun agenda yang telah disepakati harus tetap dijalankan. Apalagi hampir seluruh orang yang berkemah di Plawangan telah kosong dan turun ke Segara Anak.

Dengan jalan terlunta-lunta saya pun mulai melangkah menuruni bukit berbatuan. Bukit yang saya turuni ini cukup curam, salah langkah, saya bisa terperosok ke jurang. Apalagi tak tas di punggung saya masih menyimpan makanan untuk dua hari berada di danau.

Ngantuk yang saya rasa kala itu pupus dengan rasa takut terperosok ke jurang. Dengan konsenterasi tinggi, saya turun berlahan, memilih batu-batu yang dirasa kuat untuk dipijak. Menuruni bukit ini rasanya kaki mau copot.

Saya masih beruntung dibandingkan Cyca, mahasiswi Universitas Indnesia. Saat pendakian ke puncak Rinjani, kaki Cyca terkilir. Dengan tas besar dipunggungnya, rasa tidak enak itu harus ia jalani selama menuruni bukit.

Sepanjang perjalanan Danau Segara Anak dan Gunung Baru yang muncul di tengahnya selalu terlihat di depan mata. Sementara disekeliling bukit yang kami lewati adalah tanaman edelweis yang indah.

Meski banyak istirahat, secara berlahan, batu-batu di tebing ini kami lewati dengan selamat. Melewati tebing ini merupakan perjalanan tersulit pada saat turun dari Plawangan sembalun menuju Segara Anak.

Setelah melewatinya tebing berbatu, jalan pun lebih mudah. Saya pun berjalan lebih cepat. Hingga akhirnya kami bertemu dengan puluhan tenda-tenda di tepi danau yang biru.

Melihat lebih dekat Anak Segara, sedikit melupakan rasa lelah badan. Ditambah kehangatan pendaki lain yang telah tiba dan membangun tenda terlebih dahulu. “Teh hangat bang,” kata salah satu dari mereka.

Danau Segara Anak berada diketinggian 2010 M dpl dengan luas 100 hektar dan kedalaman kurang lebih 230 meter. Danau ini warnanya biru seperti laut. Dari atas bukit terlihat banyak ikan di dalamnya.

Dari awal pendakian, Danau Segara Anak telah disebut-sebut oleh pendaki lain yang saya kenal di jalan. Mereka menyebut bahwa Danau Segara Anak merupakah hadiah pendakian Gunung Rinjani. Seluruh kelelahan selama pendakian akan terbayar ketika sampai di danau ini.

Akhirnya saya sampai tiba salah satu tepi danau. Kami membangun tenda di sana. Kami pun bersantai menikmati ketenangan danau tersebut. Dengan teh hangat dan Indomi rebus, kami memandangi danau dengan kabut tipis yang bergerak di atasnya.

Sehabis magrib, pegal-pegal di badan masih terasa. Saya dan tiga teman saya Badot, Imam, serta Ogi berangkat menuju pemandian air panas yang tak jauh dari sana.  Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung nyemplung ke kolam tersebut.

Air panas belerang benar-benar nyaman di badan. Air ini seolah-olah memijat seluruh badan saya yang lelah dan sakit. Di kolam air panas ini terdapat air terjun setinggi sekitar 15 meter. Karena kolam ini cukup luas, saya pun berenang, bergerak ke sekitar kolam.

Tak hanya itu, malam itu cuaca cerah. Bulan dan bintang nan menerangi Danau Anak Senaru. Sambil berendam dan memandangi langit membuat kami betah berlama-lama di sana. Hingga pukul 21.00 WIT kami pun meninggalkan lokasi air panas dan mengisi air minum dari sumber mata air yang tak jauh dari lokasi kolam air panas. Sampai di tenda kami langsung masak dan menyatap sop hangat, kemudian kami langsung tidur.

Pagi di Segara Anak, kami isi dengan bersantai dan duduk sambil menikmati susu hangat dan roti panggang. Pagi itu obrolan adalah seputar air panas yang kami nikmati semalam. Pasalnya diantara dari kelompok pendakian kami, belum seluruhnya menikmati pemandian belerang tersebut.

Setelah sarapan pagi. Saya dan sejumlah pendaki lain berangkat menuju goa susu. Saya sama sekali tidak membayangkan goa susu seperti apa. Namun saya sangat penasaran akan goa susu ini.

Kami mengahabiskan waktu ke goa susu sekitar 1.5 jam. Ternyata goa susu merupakan goa kecil berwarna putih yang dialiri air belerang. Karena warna bebatuannya berwarna putih, goa ini disebut sebagai goa susu.

Orang-orang pun mulai masuk ke dalamnya. Begitu juga saya. Asap uap belerang keluar dari mulut-mulut gua. Di dalamnya kami menikmati spa alami dari uap belerang. Keringat pun mengucur. Segar rasanya.

Sepulang dari mandi uap goa susu, kami pun menjalankan aktivitas masing-masing. Ada yang memancing, mengahabiskan waktu bersantai di tepi pantai, mencari ikan gratisan, dan berkeliling danau.

Di danau tersebut ada juga penduduk lokal yang menjual ikannya kepada kepada tenda-tenda di segara Anak. Sejumlah orang ada juga yang membelinya. Namun entah dari mana mendapatkannya, teman saya Irdiyansah mendapatkan ikan yang cukup banyak. Katanya ikan itu didapat dengan modal ngobrol dengan masyarakat sekitar.

Karena jumlahnya yang banyak, saya pun kebagian. Kami menyantap ikan tersebut dengan digoreng dan disantap dengan kecap bawang dan cabai. Aduh enaknya.

Terinspirasi dari pengalaman Irdiyansah, saya dan Ogi teman satu tenda saya berkeliling danau membawa kornet. Kami berharap kornet dan Sarden tersebut dapat ditukarkan dengan ikan segar Danau Segara Anak.

Kami pun kemudian bertemu dengan penduduk lokal yang juga kerap memancing ikan di danau. Melihat wajah kami tulus ingin barter, ia pun mengiyakan. Namun ikan yang ia miliki telah habis. Penduduk tersebut berjanji akan memberikan ikan setelah memancing nanti. Kami berdua pun pasrah.

Menghabiskan sore di anak Segara, kami isi berkeliling danau. Sejumlah orang terlihat mandi di pinggir danau. Saya tidak terpikir untuk mandi di pinggir danau itu. Mengetahui kedalaman danau yang kurang lebih 230 meter membuat saya tak mau ambil resiko.

Berada di lokasi seperti ini, waktu rasanya cepat berlalu. Tiba-tiba siang, tiba-tiba sore. Rasanya saya ingin memperpanjang wartu terang berada di sana.

Besok kami akan meninggalkan Segara Anak melewati Senaru. Malam pun tiba, kami mengulangi menikmati pemandian air panas di sana. Setelah makan malam dan ngawur ngidul ngobrol tentang apa saja kami kemudian memaksakan untuk tidur, karena esok kami akan pulang dan akan berjalan seharian melewati Senaru.

Berada diantara keindahan Segara Anak, membuat kami benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Dengan apa yang saya alami, tiada kesia-siaan bersusah payah mendaki gunung Rinjani.[]

sumber: kabarkampus.com

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone