Menjawab Keraguan Tegaknya Khilafah: Menyusuri Jejak Khilafah Turki Utsmani

Alumnikampus.com – Saya ingin memulai tulisan ini dengan keraguan orang, bahkan mereka yang disebut-sebut sebagai tokoh Islam, “Bagaimana Khilafah Islam akan kembali lagi, sementra negeri kaum Muslim sudah begitu rupa terpecah belah seperti sekarang? Lalu, bagaimana caranya negeri-negeri ini akan kembali menjadi satu Khilafah?” Inilah pertanyaan yang akan saya jawab dengan pengalaman sejarah Khilafah Ustmaniyyah.

Masjid Sulaimaniyah

Masjid Sulaimaniyah, masjid yang dibangun Khalifah Sulaiman al-Qanuni, dengan arsitek Mimar Sinan.

Khilafah Utsmani, begitu kemudian status itu diberikan, mulai mencuri perhatian, diatakuti dan disegani kawan dan lawan, setelah Penaklukan Kontanstinopel, 1453 oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Bahkan, era ini disebut sebagai Abad Baru, setelah bangsa Eropa hidup di Dark Age, Abad Kegelapan. Di sisi lain, Penaklukan ini juga disebut oleh bangsa Eropa Kristen sebagai munculnya Masalah Ketimuran.

Bangsa Turki, yang sebenarnya masih merupakan saudara sepupu bangsa Mongol, setelah masuk Islam, telah menjelma menjadi Ghazi. Sebutan untuk mereka, karena sikap kesatria mereka. Ghazi adalah petarung dalam peperangan. Mereka pun bangga menjadi Ghazi. Para Sultan Utsmani juga menyandangan gelar Gultan Ghazi. Mereka berasal dari suku yang sama dengan Shalahuddin al-Ayyubi yang juga sama-sama dari Bani Saljuk.

Namun, yang menarik, Khilafah Ustami baru secara resmi didaulat menjadi Khilafah Islam sejak Sultan Salim I berhasil membabat Negara Shafawiyyah yang menguasai Mesir, Syam, Palestina dan Hijaz. Juga Negara Mamluk, yang saat itu zalim dan menindas. Sejak saat itulah, Sultan Salim mendapatkan bai’at dari Khalifah al-Mutawakkil, yang memang sudah tidak berdaya.

Menariknya, ketika itu negeri-negeri kaum Muslim juga terpecah belah seperti sekarang. Di Andalusia, kaum Muslim sudah kehilangan pengayomnya, setelah Khilafah Umayyah di sana runtuh. Setelah itu, kaum Muslim di Spanyol dipaksa murtad oleh gereja, melalui Pengadilan Inkuisisi. Sementara di Timur Jauh, Kesultanan Melayu di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan sekitarnya menghadapi ancaman Portugis.

Di Barat Laut Mediterania ancaman Armada Maritim Perancis dan Spanyol yang menjadi koalisi maritim, mulai mengancam pesisir Laut Afrika sebelah utara. Mereka berusaha untuk menguasai dan menjajahnya. Bahkan, mereka menghalangi kapal-kapal kaum Muslim yang mengangkut pengungsi dari Spanyol, yang melarikan diri dari Inkuisisi.

Pintu Istana Top Kape

Pintu Istana Top Kape, pintu 1 dan baliknya pintu. Ditulis, “Nashrun Mina-Llah wa Fathun Qarib, wa Basysyiril Mu’minin.”

Begitulah kondisi kaum Muslim saat itu. Tidak jauh beda dengan kondisi saat ini. Allah tampaknya telah menyiapkan para Ghazi ini dengan Khilafahnya untuk menyelematkan umat Nabi-Nya. Maka tanggunjawab berat ini pun diemban dengan baik oleh Khilafah Utsmani. Di Indonesia kita merasakan dan dengan nyata membuktikan sumbangsih Khilafah ini saat Khilafah Utsmani membantu rakyat Aceh mengusir Portugis.

Bahkan, bukti bendera, atribut dan lain-lain hingga kini tersimpan di istana Kesultanan Mataram, DIY, Kesultanan Jambi dan lain-lain. Bukti, bahwa Wilayah Nusantara pernah menjadi bagian dari Khilafah Utsmani. Khilafah Ustmani tidak perlu menaklukkan, apalagi menjajah, seperti yang ditulis para penulis Kristen Maronit di Syam. Karena wilayah-wilayah itu justru sudah lemah, kemudian dipersatukan oleh Khilafah Utsmani ini dengan cukup memberikan bai’at mereka kepada Khalifah. Begitulah yang terjadi di Mesir, Irak, Afrika, India, dan lainnya termasuk Nusantara.

Maka, saya membayangkan sejarah ini akan terulang. Apa yang menjadi pertanyaan di atas pun dengan mudah terjawab. Hanya waktu yang akan membuktikan.

Kini tak ada lagi keraguan, “Mereka boleh saja melihatnya jauh, tetapi kami melihatnya sudah deket.” Begitulah firman Allah dalam Q.s. Al-Ma’arij: 6-7. Inilah perjalanan penting yang hendak kita raih. Semoga Allah menyampaikan pada tujuannya.. Dan mematri nama-nama kita dalam sejarah kemuliaan Islam. Dengannya, Allah melayakkan kita mendapatkan kanji-Nya dan kabar gembira Rasul-Nya. Amin..

benteng konstantinopel

Benteng Konstantinople, panjang 21 km, tinggi 12 m, lebar 8 m, ada tiga lapis

Sabtu pagi, 12 Desember 2015, tapat pukul 04.25 waktu setempat, kami mendarat di Bandara Istambul. Meski dalam kondisi yang lelah, karena kurang lebih 12 jam di atas pesawat, tetapi semangat dan motivasi ingin mendampingi dan mengantarkan jamaah untuk meraih pelajaran berharga dalam hidupnya, itulah yang membuat saya kuat, hingga sampai di hotel selepas selepas Ashar. Saya berterima kasih kepada jamaah semua, karena telah mendoakan saya, sehingg bisa diberi kekuatan oleh Allah SWT.

Sungguh, fisik boleh lelah, tapi, keyakinan dan akidah kita tidak. Inilah pelajaran pertama yang saya ambil dari perjalanan Penaklukan Konstantinopel ini. Muhammad al-Fatih adalah orang biasa, seperti kita. Terus terang saya menangis, saat pertama kaki-kaki saya menjejakkan kaki di Turki, saya membayangkan Konstantinopel yang ditaklukkan pemuda 21 tahun. Sungguh hebat dia. Benteng sekokoh dan seangker itu, sudah 23 kali digempur, bahkan ekspedisi pasukan kaum Muslim sejak zaman Mu’awiyah hingga ayahandanya sendiri tidak berhasil, akhirnya berhasil dia tuntaskan.

Ketika berada di dinding benteng Konstantinopel, di dalam Panorama 1453, pertanyaan ini selalu saya ulang-ulang, “Apa yang membuat benteng se angker dan se kokoh itu jatuh ke tangan pemuda umur 21 tahun?” Akidah. Keyakinan. Kalau bukan karena yakin, bukan karena keimanan yang kuat kepada pertolongan Allah, mustahil pemuda 21 tahun itu bisa menaklukkan benteng yang luar biasa itu.

Makam Khalifah Sulaiman al-Qanuni, di depan Masjid Sulaimaniyah.

Makam Khalifah Sulaiman al-Qanuni, di depan Masjid Sulaimaniyah.

Akidahnyalah yang kemudian mendorong dia bertekad sekuat baja untuk mewujudkan Bisyarah Nabi, Menaklukkan Konstantinopel, sehingga membuatnya bekerja keras siang dan malam. Dia kuasai 9 bahasa, ilmu kemiliteran, politik, geografi, manajemen, dan lain-lain, ditopang dengan tahajudnya yang tidak pernah berhenti sejak baligh, serta munajatnya kepada Rabb-nya, membuat Allah memilihnya sebagai orang yang berhak mendapatkan Bisyarah Nabi-Nya.

Dialah yang dinobatkan sebagai “Sebaik-baik pemimpin.” dan pasukannya pun disebut sebagai “Sebaik-baik pasukan.” Itulah Muhammad al-Fatih dengaan pasukan Inkisyari yang luar biasa. Karena itu, dia dan pasukannya telah menjelma menjadi makhluk yang luar biasa. Karena ketataatnya kepada Allah SWT.

Inilah pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan MENYUSURI JEJAK KHILAFAH di Istambul. Hati dan mata pun terus menangis, saat melihat bukti-bukti sejarah di masa lalu. Subhanallah. Semua ini untuk menjadi pelajaran bagi kita, agar ummat Nabi Muhammad saw. ini kembali bangkit sebagaimana era kejayaan mereka.

Pejalaran kedua, bahwa dengan keyakinan kita yang bulat kepada Allah SWT, sebagaimana Muhammad al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel, meski harus berkali-kali berusaha, maka tidak ada yang mustahil. Semuanya bagi Allah mungkin. Maka, di sinilah kunci kesuksesan ummat Nabi Muhammad saw. KEYAKINAN. Dengannya, TIDAK ADA YANG MUSTAHIL.

Istambul,
Senin, 14 Desember 2015 M/1 Rabiul Awwal 1437 H

Penulis: KH Hafidz Abdurrahman

 

 

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone