Metode Dakwah Rasulullah SAW. Yang Wajib Diikuti

Alumnikampus.com – Dalam berdakwah, kita harus mengikuti cara yang telah dicontohkan oleh Nabi, dan dilarang menggunakan cara lain atau bahkan cara orang kafir (baca: Demokrasi). Berikut ini Tulisan lengkap tentang metode dakwah Nabi Muhammad SAW menggambarkan bagaimana metode dan cara nabi dalam berdakwah. Semoga bermanfaat dan menginspirasi..

Mendirikan Kelompok Dakwah dan pembinaan (Tastqif)

pembinaan umatDalam mengawali langkah dakwahnya, Rasulullah saw. mendatangi orang-orang terdekat beliau dan secara terang-terangan mengajak orang-orang Makkah untuk masuk Islam. (Lihat: QS al-Mudatstsir [74]:1-2).

Rasulullah saw melakukan kontak dengan orang-orang Makkah dan mengajarkan mereka al-Quran. Satu-persatu dari mereka memeluk Islam, Beliau kemudian memerintahkan kepada mereka yang lebih dulu memeluk Islam untuk mengajarkan al-Quran kepada yang lainnya. Beliau menjadikan rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam sebagai pusat pembinaan.

Kemudian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya menjalankan aktivitas (shalat dan pengkajian Islam, pen.) secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, yaitu setelah peristiwa perkelahian Sa‘ad bin Abi Waqash- (Sîrah al-Halabiyah. jilid I/456). Hal itu dilakukan Rasul dan para sahabatnya hingga tibanya dakwah secara terang-terangan dan i‘lân (ekspose secara terang-terangan, pen.) pada tahun ke-4 setelah kenabian. (Ibid, jilid I/457).

Jumlah para sahabat Rasul saw. selama tiga tahun pertama dakwahnya berjumlah 40 orang. Mereka membentuk kutlah (kelompok) yang siap mengemban dakwah. Mereka antara lain: Ali bin Abi Thalib yang berusia 8 tahun; Zubair bin Awwam, 8 tahun; Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun; Arqam bin Abi Arqam, 12 tahun; Abdullah bin Mas’ud, 14 tahun; Sa‘id bin Zaid, kurang dari 20 tahun; Sa‘ad bin Abi Waqash, 17 tahun; Mas‘ud bin Rabi‘ah, 17 tahun; Ja‘far bin Abi Thalib, 12 tahun; Shuhaib ar-Rumi, di bawah 20 tahun; Zaid bin Haritsah, 20 tahun; Utsman bin Affan, 20 tahun; Thalib bin Umair, 20 tahun; Khabab bin Arat, 20 tahun; Amir bin Fuhirah, 23 tahun; Mush‘ab bin Umair, 24 tahun; Miqdad bin Aswad, 24 tahun; Abdullah bin Jahsy, 25 tahun; Umar bin al-Khaththab, 26 tahun; Abu Ubaidah bin Jarrah, 27 tahun; Utbah bin Ghazwan, 27 tahun; Abu Hudzaifah bin Utbah, 30 tahun; Bilal bin Rabbah, 30 tahun; ‘Iyasy bin Rabi‘ah, 30 tahun; Amir bin Rabi‘ah, 30 tahun; Na‘im bin Abdillah, 30 tahun; Utsman, Abdullah, Qudamah, dan Sa‘’ib (semuanya adalah anak-anak Mazh’un bin Habib) yang masing-masing berusia 30, 17, 17, dan 20 tahun; Abu Salamah Abdullah bin Abd al-Asad al-Makhzumi, 30 tahun; Abdurrahman bin Auf, 30 tahun; ‘Ammar bin Yasir yang berusia antara 30 sampai 40 tahun, Abu Bakar Shiddiq, 37 tahun; Hamzah bin Abdul Muthalib, 42 tahun; dan Ubaidah bin Harits yang berusia 50 tahun. Di samping itu, terdapat beberapa kaum wanita yang telah beriman. (Taqiyuddin an-Nabhani, Dawlah al-Islâmiyah, hlm. 15-16. Lihat juga: Ibn Katsir, Bidâyah wa an-Nihâyah, jilid III/24-33).

Berinteraksi dengan Masyarakat

Setelah Muhammad saw. membentuk kekuatan kelompok bersama para sahabatnya, Allah Swt. memerintahkan beliau keluar secara terang-terangan, sebelum dakwah ini di gulirkan Umar ra. bertanya kepada Rasulullah saw.

“Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar?” “Benar, ya Umar. Kita berada di pihak yang benar.” “Kalau begitu, kenapa kita harus bersembunyi-sembunyi? Kenapa kita tidak beribadah di depan orang banyak dan mendeklarasikan Islam terang-terangan kepada mereka?”

Kemudian turunlah perintah dakwah secara terang-terangan. (Lihat: QS al-Hijr [15]: 94).

Dengan turunnya surat al-Hijr ayat 94, Rasul dan para sahabat turun ke jalan dalam dua barisan. Mereka berjalan mengelilingi Ka’bah sepanjang siang dalam rangka menunjukan eksistensi Islam, setelah itu Rasul dan para sahabat berdakwah dan menentang praktik-praktik dari aturan-aturan kota Makkah.

Muhammad saw. dan para Sahabat ra. selalu berdakwah dan mengambil setiap kesempatan untuk mengungkap kesalahan dari cara pandang hidup yang selama ini dijalani orang-orang Quraisy. Beliau mencela korupsi, mengungkap masalah-masalah sosial, dan sistem pergaulan kaum Quraisy. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Salah satu contohnya adalah ketika para Rasulullah dan para sahabat mencela praktik-praktik kotor ekonomi kaum Quraisy pada saat itu dengan membacakan firman Allah swt :

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (QS al-Mutaffifin [83]: 1).

Mereka membacakan Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat dalam rangka berdakwah dan menebarkan opini Islam, seperti yang di lakukan oleh Abdullah bin Mas’ud yang membacakan Al-Qur’an sambil berteriak di kerumunan aktivitas masyarakat Quraisy,hingga Abdullah bin Mas’ud di pukul dan di keroyok sampai pingsan. (baca : Shiriah Ibnu Hisyam)

Kelompok Muhammad saw yang beranggotakan para Sahabat pun menantang para pemimpin Quraisy. Sebagai contoh, ketika Hamzah memeluk Islam, dia berhadapan dengan Abu Jahal sambil menantangnya dengan berkata, “Apakah engkau akan menghinakan kemenakanku (Muhammad) setelah aku menjadi pengikut agamanya?”

Allah Swt. telah menyerang orang-orang zalim, seperti dalam firman-Nya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (QS al-Masad [111]: 1).

Meraih kekuasaan dengan cara Thalabun Nushrah

Walaupun semua itu telah dilakukan, Muhammad saw. masih belum dapat mendirikan negara Islam. Karena itu, beliau menghabiskan seluruh upayanya dalam melakukan thalab an-nushrah (mencari pertolongan untuk meraih kekuasaan). Tentu saja tanpa aktivitas thalab an-nushrah dari orang-orang yang memilikinya tidak akan mungkin mampu menegakkan negara, serta menegakkan agama Allah Swt. di muka bumi. Perhatikanlah di semua buku-buku sirah Rasul, Anda akan melihat bahwa beliau menghabiskan waktu selama 3 tahun, pergi dari satu kabilah (suku) yang kuat ke kabilah kuat lainnya, mengajak mereka untuk membantu beliau meraih kekuasaan serta mengimplementasikan Islam. Secara keseluruhan beliau mengunjungi lebih dari 40 suku (kabilah) dengan satu tekad, yaitu mengajak mereka untuk masuk agama Islam dan membantu beliau untuk meraih kekuasaan sehingga Islam dapat diimplementasikan secara menyeluruh.

Muhammad saw. senantiasa mengadakanmengajak dan menyeru kepala/ pimpinan kabilah-kabilah (suku-suku) yang ada. Setelah mengajaknya kepada Islam kemudian berdialog dengan kabilah Bani Amr bin Sa‘sa‘ah, mereka bertanya kepada Rasul saw. “Siapa yang akan menjadi penguasa setelah engkau?”

Muhammad saw. menjawab, “Allah akan memberi kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Kemudian Rasulullah saw. pun mengutus Mushab bin umair ra. ke Yastrib dalam rangka dakwah, hingga akhirnya suku Pemimpin ‘Aus dan Khazraj menerima dakwah Mushab bin umair kemudian terjadilah bai’atul ‘Aqabah. Setelah itu kaum muslimin mekkah hijrah ke yastrib atas perintah Rasulullah saw., dan kemudian turunlah perintah hijrah kepada Rasulullah saw. Sangat luar biasa, sambutan masyarakat yastrib ketika itu sangat-sangat meriah. Baik dari kalangan kaum muslimin, yahudi dan nashrani saat itu pun ikut menyambut kedatangan RAsulullah saw. walaupun hati mereka tidak menerima. Kemudian mulailah Rasulullah saw. mengatur Yastrib dengan awal mendirikan masjid dan membuat prjanjian-perjanjian kepada kaum kafir Yahudi dan Nashrani. Begitulah Daulah Islam pertama kali tegak.

Dakwah Hizbut Tahrir di pertanyakan?

dakwah HTIHizbut Tahrir dalam langkah-langkah perjuangannya selalu berpegang pada metode Rosulullah saw. Siapa saja yang menjadikan Rasul sebagai contoh teladan, akan dapat melihat bagaimana Rasulullah saw. beserta kelompoknya dari para sahabatnya berjuang melawan seluruh kebatilan dan menghadapi segala rintangan dalam rangka meninggikan agama Allah Swt. di muka bumi dengan mendirikan negara Islam di Madinah.

Allah swt berfirman : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Qs. Al- Ahzab : 21)

Sungguh keadaan di zaman kapitalisme sekular saat ini sama persis dengan keadaan di mekkah 14 abad yang lalu. Orang-orang kafir quraisy pada saat itu mengakui Allah sebagai tuhan, namun mereka menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain seperti Latta dan ‘Uzza. Saat ini kaum muslimin pun sama, mereka menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah namun mereka berhukum dengan undang-undang demokrasi sekularisme dan kapitalisme.

Di mekkah pada saat itu banyak sekali praktik-praktik korupsi, pelacuran, driskiminasi (perampokan dan penganiyaan), dll. Sama halnya di zaman sekarang, tidak ada bedanya sama sekali. Yang membedakan hanyalah cara (Uslub), dahulu tidak ada teknologi dan saat ini kemaksiatan dapat di lakukan lebih keren lagi.

Perjuangan Hizbut Tahrir sangat mencontoh perjuangan dakwah Rasulullah saw. ketika di mekkah. Rasulullah berdakwah dengan cara menyeru dan mengajak, dengan cara debat dan dialog-dialog.

Allah swt berfirman : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Qs. An-Nahl : 125)

Perjuangan Hizbut Tahrir saat ini pun demikian, HT mengoreksi dan mengungkapkan kebobrokan-kebobrokan sistem yang ada saat ini. Mulai dari sistem politik demokrasi, ekonomi kapitalisme dan lain sebagainya.

Rasulullah saw. tidak pernah masuk kedalam ranah kekuasaan politik kaum kafir Quraisy, begitu juga dengan Hizbut Tahrir yang tidak masuk dalam sistem parlemen. Hizbut Tahrir mencontoh dan mengambil pelajaran dari kisah Rasulullah saw. ketika di tawarkan kekuasaan oleh Abu jahal dan para pasukannya melalui ‘Abdul Muthalib (paman Rasulullah saw.. Dengan tegas Rasulullah saw bersabda kepada pamannya :

“Paman, andai mereka sanggup menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan pernah melakukannya, hingga Allah memenangkan agama-Nya atau aku mati karenanya.” (Shirah Ibnu Hisyam).

Secara faktual pun demokrasi hanya menyakiti hati, fakta FIS (Front Islamic de Salut) di Aljazair yang menang mutlak dalam pemilu ternyata malah di bantai dan di berangus. Orang yang mempunyai akal, pasti dia akan mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa tersebut.

Allah swt berfirman : Dia memberikan hikmah kepada siapa siapa saja yang di kehendaki. Barang siapa yang di beri hikmah, maka sesungguhnya dia telah di berikan kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Qs. Al-Baqarah : 269)

Secara hukum syara’ pun demokrasi sangat-sangat bertentangan dalam Islam, dalam demokrasi hak membuat hukum adalah hak rakyat (mengikuti suara mayoritas rakyat). Sedangkan dalam Islam hak membuat hukum hanyalah milik Allah.

Allah swt berfirman : Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Qs. Al-An’am : 57)

Secara historis pun demokrasi bukan dari Islam yang saat itu di turunkan di jazirah arab, melainkan dari yunani. Sangat-sangat mengherankan kalo ada yang mengatakan bahwa demokrasi itu dari Islam, atau Islam itu adalah demokrasi.

Sangat jelas semuanya, bahwa Rasulullah bedakwah dengan cara menyeru kepada pemikiran. Agar kaum musyrik meninggalkan pemahaman-pemahan dan adat-adat jahiliyyahnya. Rasulullah berdakwah tidak dengan cara bernya-nyanyi marawis atau seni-seni yang lainnya. Walaupun hukumnya adalah mubah, namun dakwah seperti itu sangat tidak effectif dan jauh dari sunnah Rasulullah saw. Hal inilah yang di adopsi oleh Hizbut-Tahrir di seluruh dunia, berdakwah mengikuti RAsulullah ketika masih berada dalam fase mekkah.

Saat ini Hizbut Tahrir tinggal menunggu waktu, sampai para ahlul quwwah dan mayoritas maysrakat paham dan mendukung penegakan Syari’ah dan Khilafah. Hingga datangnya janji Allah, ketika itulah kita semua akan menyaksikan orang-orang munafiq menangis.

Dan perlu di ketahui bahwa Khilafah ini bukanlah Khilafah Hizbut Tahrir, yang di perjuangkan Hizbut Tahrir adalah Khilafah Islamiyyah. Siapapun berhak nanti menjadi Khalifah, dengan syarat harus memiliki kafa’ah sesuai dengan ijma’ ‘Ulama dan Sahabat ra.

Wallahu’alam. [fadli]

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone