Pandangan seorang Professor terhadap KEBHINEKAAN yang Membabibuta

Alumnikampus.com – Ditengah persiapan aksi bela Islam III, banyak aksi atau parade yang bertema kebhinekaan. Aksi atau parade ini di nilai oleh sebagai “bahasa” lain untuk lindungi ahok yang telah menjadi tersangka kasus penistaan Agama. Seorang professor muda Indonesia memberikan opini tentang kebhinekaan yang punya batasan dan nilai tersendiri. Berikut ini pandangan beliau tentang Kebhinekaan yang saat ini sedang menjadi hot topik di dalam negeri.

Allah memang menciptakan manusia beranekaragam. Andaikata Dia mau, tentu Dia ciptakan seragam saja.
Ini arti ayatnya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (TQs.al Hujurat 49:13)

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (TQs. Almadidah – 5:48)

Jadi, kebhinekaan itu diakui sebagai realitas.
Namun demikian, yang paling mulia adalah yang BERTAQWA

Yang membuat orang menjadi lebih mulia, itu
bukan suku yang bayi tidak bisa memilih,
bukan agama yang dibawa dari lahir,
bukan ras yang disematkan oleh batas-batas maya,
bukan golongan yang dipaksakan oleh sistem sosial,
— karena tidak ada bayi yang dapat memilih bahwa orang tuanya orang tuanya Jawa atau Batak, orang tuanya muslim atau non muslim, orang tuanya Indonesia atau Tionghoa, orang tuanya kaya atau miskin, orang tuanya Golkar atau Golput — tetapi TAQWA, yang dijalani dengan penuh kesadaran, ilmu, dan keihlasan, itu yang akan menjadikan mereka mulia.

Maka mempromosikan taqwa, mendakwahkan agar orang yang beraneka ragam (pluralitas) itu bertaqwa, menjalankan yang diwajibkan syari’ah, dan menjauhi yang diharamkan syariah, adalah jalan membuat kebhinekaan lebih mulia.

Sebaliknya, mempertahankan kebhinekaan secara membabibuta (pluralisme), menganggap suci keberagaman yang menjauhkan manusia dari taqwa, justru bertentangan dengan tujuan Allah menciptakan keberagaman itu sendiri.

Allah menciptakan kebhinekaan untuk menguji kita, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Oleh: Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone