Pengertian Wakaf

Alumnikampus.com – Salah satu amalan yang dapat mengalirkan pahala meskipun wakif (orang yang menwakafkan hartanya) sedah meninggal adalah wakaf (sedekah jariyah). Artikel ini ingin menjelaskan pengertian dari wakaf berdasarkan dalil. Semoga bermanfaat.

Secara bahasa, kata wakaf atau al-waqf berasal dari kata waqafa–yaqifu–waqf[an]; artinya habbasa (menahan, menghalangi). Sehingga, kata al-waqaf bermakna al-habs (menahan).[1]

Sedangkan secara syar’i, ada beberapa penjelasan yang dikemukakan para ulama. Menurut Sayyid Sabiq, wakaf adalah menahan harta pokok dan mengalirkan buahnya. Dengan ungkapan lain, menahan harta dan mengambil manfaatnya untuk digunakan di jalan Allah.[2]

Pengertian senada juga dikemukakan oleh Imam al-Shan’ani. Menurutnya, wakaf adalah menahan harta yang bisa dimanfaatkan, sedangkan bendanya tetap utuh, digunakan dalam perkara yang mubah dengan tanpa merusak atau menghabiskan zatnya.[3]

Menurut Wahbah al-Zuhaili, jumhur ulama mendefinisikan wakaf sebagai menahan harta yang bisa dimanfaatkan, sedangkan bendanya tetap langgeng, tanpa dipergunakan untuk sesuatu yang bisa melenyapkannya baik oleh orang yang berwakaf maupun orang lain, digunakan sesuatu yang mubah atau dalam kebajikan dan kebaikan dalam rangka taqarrub kepada Allah.[4]

Dari berbagai definisi itu terdapat perkara yang sama. Pertama, wakaf adalah habs mâl (menahan harta). Yang dimaksud dengan menahan atau menghalangi harta adalah menahan atau menghalangi harta dari kepemilikan oleh seseorang atau suatu pihak, baik orang yang mewakafkan atau orang lain.

Ketentuan ini didasarkan kepada Hadits dari Ibnu Umar ra. Dia memberitakan bahwa Umar bin al-Khaththab ra pernah mendapat harta yang sangat berharga berupa kebun kurma di Khaibar. Umar ra pun ingin menyedekahkan harta tersebut. Lalu dia bertanya kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda:

إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا

Jika engaku mau, engkau dapat menahan pokoknya dan bersedekah dengannya (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad).

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda:

تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ

Bersedekahlah dengan pokoknya; tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwarisi; tetapi hasilnya dibelanjakan. (HR al-Bukhari).

Dalam Hadits tersebut Rasulullah saw bersabda: habbasta ashlahâ (kamu menahan pokok bendanya). Ungkapan ini jelas memberikan pengertian bahwa barang yang telah diwakafkan itu ditahan, tidak berpindah kepemilikan kepada orang lain. Kesimpulan tersebut semakin jelas dalam sabda beliau: lâ yubâ’u wa lâ yûhabu wa lâ yûratsu (tidak boleh dijual, dihibahkan, dan diwariskan). Ini me

Kedua, yang diperbolehkan dalam wakaf adalah menggunakan manfaat, buah, atau hasil dari harta pokok yang diwakafkan. Dengan kata lain, seluruh manfaat yang dihasilkan dari harta pokok yang diwakafkan boleh digunakan. Termasuk pula benda yang dihasilkan, semisal buah dari kebun yang diwakafkan, hasil sewa dari gedung yang diwakafkan, dan lain-lain.

Kesimpulan ini didasarkan pada Hadits di atas: Yunfaqu tsamaruhu (dibelanjakan hasilnya). Dalam kelanjutan riwayat di atas juga disebutkan:

فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِى الْفُقَرَاءِ وَفِى الْقُرْبَى وَفِى الرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

Umar lalu bersedekah dengannya untuk orang-orang fakir, kaum kerabat, membebaskan budak, jihad fi sabilillah, ibnu sabil, dan para tamu. Orang yang mengurusnya diperbolehkan makan darinya secara makruf atau memberi makan temannya, tanpa memilikinya (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah, Ahmad).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa wakaf merupakan salah satu bentuk sedekah, akan tetapi hanya boleh diambil manfaatnya. Sedangkan bendanya harus tetap utuh dan tidak boleh dipindahkan kepemilikannya.

[1] al-Shan’ani, Subul al-Salâm, vol. 2 (tt: Dar al-Hadits, tt), 126; al-Jurjani, al-Ta’rifât (Beirut:Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1983), 253

[2] Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1997), 515

[3] al-Shan’ani, Subul al-Salâm, vol. 2 (tt: Dar al-Hadits, tt), 126

[4] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Fikr, tt), 7599

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone