Prof. Dr. -Eng. Fahmi Amhar: Jangan mau dibohongi “pakai” demokrasi!

JANGAN MAU DIBOHONGI “PAKAI” DEMOKRASI!
(Rakyat Negara Dedengkot Democrazy Saja, Sudah Ga Doyan (baca:Muak) dengan Ilusi Pesta Democrazy)

Sebenarnya mayoritas suara rakyat Amerika yang ikut memilih pada Pemilu lalu diberikan untuk Hillary Clinton.
Tetapi karena aturan electoral (jika di suatu negara bagian, Trump dapat 50%+1, maka seluruh suara di situ jadi milik Trump) – mirip bilangan pembagi pemilih – jadi lah Trump yang menang.

Apalagi hasil akhir Pemilu lalu menunjukan 46,9% (sekitar 100 juta dari 319 juta jiwa, menurut data sensus penduduk Amerika 2014) warga USA lebih memilih golput. (http://www.scarymommy.com/almost-half-country-didnt-vote-…/…)

Kemudian jadi ada wacana beberapa negara bagian akan keluar dari perserikatan (federasi). Misalnya, California atau New York akan merdeka, pisah dari USA.
Kalau Amerika Serikat pecah jadi beberapa negara yang lebih kecil, kira-kira apakah dunia akan lebih damai?

===

Bagaimana kalau ada pejabat publik berpidato begini:
“Jadi ibu-ibu boleh tidak memilih saya, tetapi JANGAN MAU DIBOHONGI PAKAI DEMOKRASI” …

Lalu ada yang mengedit video itu, atau membuat transliterasi menjadi “JANGAN MAU DIBOHONGI DEMOKRASI”.

Apakah akan timbul tuduhan bahwa si pejabat itu telah melakukan PENISTAAN terhadap KONSTITUSI ? atau PENISTAAN terhadap PEJUANG DEMOKRASI ? atau malah dialihkan ke kasus pemotongan kata “PAKAI” ?
Apakah semua itu delik pidana?

===

Apa yang terjadi di Amerika hari ini,
Sekitar 80 tahun yang lalu di Jerman juga terjadi,
tatkala demokrasi menaikkan Hilter dan NAZI,
lalu perang dan pembantaian seolah mendapat legitimasi.

Apa yang terjadi dengan kemenangan Trump hari ini,
bagi muslim di Amerika mungkin awal masalah yang dibenci,
dan juga awal bencana bagi manusia di berbagai negeri,
tapi itu bagian dari Qadarullah yang tak bisa dihindari,
maka hikmahnya wajib kita cari !!!

Apa yang akan terjadi di dunia ini,
yang di awalnya kita benci,
mungkin baik bagi kita hakekatnya nanti,
sedang yang awalnya kita sukai,
bisa jadi justru buruk di akhirnya takkan terbilang lagi.

Demokrasi adalah sistem yang memberikan ilusi,
bahwa rakyat memiliki kedaulatan membuat hukum yang sejati,
mereka juga memilih sendiri pemimpin yang mereka cintai,
untuk kebaikan mereka seluruh rakyat negeri.

Padahal yang terjadi tidak selalu seperti yang dimimpi.
Pemilih Trump mungkin hanya muak dengan janji-janji,
yang selama delapan tahun oleh Obama tidak juga terpenuhi.
Maka mereka memilih calon asal bukan Demokrat, bukan Hillary,
Toh keduanya sama saja, tetapi yang penting suasananya ganti !

Demokrasi itu rusak, bukan karena suara preman setara suara kyai,
Demokrasi itu rusak, bukan karena fanatisme pada kepentingan abadi,
Demokrasi itu rusak, bukan karena memecah belah umat ke beberapa faksi,
Demokrasi itu rusak, bukan karena tasyabbuh alal kuffar, nashara wa yahudi,

Demokrasi itu rusak, bukan karena mahal dan suburkan korupsi,
Demokrasi itu rusak, bukan karena dia hanya untuk korporasi,
Demokrasi itu rusak, bukan karena itu alat penjajahan tersembunyi
Itu semua hanyalah akibat rusaknya demokrasi yang tampak di negeri ini,
namun itu semua bukan alasan rusaknya demokrasi di penjuru bumi.

Demokrasi itu rusak oleh satu alasan saja,
Yaitu ketika keyakinan (atau tepatnya kesombongan) ada
bahwa manusia lebih berhak mengatur hidupnya daripada Allah Ta’ala,
sekalipun untuk itu perintah Allah justru harus dilarang semena-mena,
dan larangan Allah justru harus diwajibkan dengan paksa !!!

Cukuplah kita imani,
bahwa hukum terbaik adalah yang diturunkan Ilahi,
pemimpin terbaik adalah mukmin yang kuat yang rakyat mencintai,
dan keduanya memberikan kebaikan tak hanya untuk rakyat negeri,
tetapi juga untuk seluruh alam merahmati.

===

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

* Pemimpin di sana membuat rakyatnya gerah
* Mulutnya ringan memaki dan mengucap sumpah serapah
* Tangan besinya menggusur rakyat yang sudah susah
* Namun investor Cina diterimanya dengan amat ramah
* Bahkan hukum bisa dikangkanginya dengan mudah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

* Di negeri para bedebah itu
* Orang kecil mudah dipenjarakan karena menista agama
* Tetapi orang besar menunggu jutaan orang marah
* Sampai puluhan ribu polisi ditarik ke ibu kota
* Hanya untuk menjaga satu orang yang tidak amanah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

===

DEMOKRASI PROSEDURAL & DIKTATUR SUBSTANSIAL

Demokrasi yang mencatut Tuhan dengan jargon “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” adalah demokrasi substansial. Dan kalau hasilnya menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal (bahkan di negeri ini sudah mewajibkan yang haram dan mengharamkan yang wajib), maka tampak nyata bahwa itu kufur. Baik demokrasi substansial maupun diktatur substansial, semuanya kufur.

Adapun demokrasi prosedural adalah tatacara (prosedur) bahwa rakyat mempercayakan urusan mereka pada orang-orang yang mereka percaya, atau dianggap bisa dipercaya. Kebebasan pers, berpartai, berdemonstrasi dan pemilihan umum adalah buah demokrasi prosedural. Hukum asal aktivitas ini adalah mubah. Dia bisa berubah sesuai substansi yang diperjuangkannya.

Sayangnya, banyak orang yang terpilih secara demokratis ini, akhirnya mengkhianati rakyat yang memilihnya. Setelah terpilih mereka kemudian membuat UU yang secara substansi bertentangan dengan kemauan rakyat, bahkan bertentangan dengan Islam. Mereka menyalahgunakan demokrasi prosedural untuk membuat diktatur substansial.

Di Indonesia, mayoritas rakyat hanya tahu demokrasi sebatas prosedural. Maka mereka marah ketika ada ormas yang menolak demokrasi substansial.
Rakyat hanya tahu demokrasi prosedural.
Para pengkhianat rakyat menikmati demokrasi substansial.

Penulis:

fahmi-amhar

Oleh: Prof. Dr. -Eng. Fahmi Amhar
(Pakar Geospasial | Alumnus S3 Universitas Vienna, Austria | Profesor Peneliti Termuda yang Pernah Dikukuhkan LIPI)

Dapatkan Artikel Menarik Lainnya!

Ayo Langgangan artikel Alumni Zone